Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

Hari Biasa, Minggu Biasa XXVIII. “Sesungguhnya Aku Mengutus Kamu Seperti Anak Domba ke Tengah-tengah Serigala”

October 18, 2019 | Bacaan & Renungan

Hari Biasa, Minggu Biasa XXVIII. “Sesungguhnya Aku Mengutus Kamu Seperti Anak Domba ke Tengah-tengah Serigala”, Jumat, 18 Oktober 2019
Pesta St. Lukas, Penulis Injil

Bacaan Hari ini, Tahun Liturgi C

Bacaan Pertama

Surat Paulus yang kedua kepada Timotius 4:10-17b

Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu. Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku? kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka?, tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.

Demikianlah sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan

Refr. Para kudus-Mu, ya Tuhan, memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia.

Mzm 145:10-11.12-13ab.17-18

– Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.
– Mereka memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia. Kerajaan-Mu ialah kerajaan abadi, pemerintahan-Mu lestari melalui segala keturunan.
– Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Bait Pengantar Injil

Yoh 15:16
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu supaya pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap.

Bacaan Injil

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 10:1-9

Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.

Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus

Renungan

Bacaan Injil hari ini menampilkan kisah tentang penetapan kedua belas Rasul. Dan di sini disajikan kisah pengangkatan “Tujuh puluh orang” sebagai misionaris. Tujuan misi mereka bukan hanya di Israel, melainkan seluruh dunia. Patut diperhatikan bahwa kisah ini ditempatkan oleh penginjil Lukas, pada tahap awal perjalanan Yesus ke Yerusalem. Lokasinya barangkali masih di Samaria.
Tidak dapat dipastikan, Yesus menetapkan 70 atau 72 orang, sebab kedua versi ini didukung oleh salinan-salinan kuno Injil, yang seimbang jumlahnya dalam tradisi Yahudi. Angka 70 melambangkan bangsa-bangsa bukan Yahudi. Tidak mustahil bahwa angka itu ditentukan berdasarkan jumlah orang keturunan Abraham yang pindah ke Mesir. Selain itu angka ini mungkin berhubungan pula dengan 70 orang Pemuka yang dipilih oleh Musa, sebagai asisten-asistennya yang kemudian ditambah dengan 2 orang lagi.
Lukas menyebut angka 72 orang sehingga angka 70 yang tercantum dalam sejumlah salinan, mungkin harus dipandang sebagai angka bulat saja.
Ungkapan “murid lain” kiranya mengacu kepada kelompok kedua belas rasul yang dipilih Yesus sebelumnya, artinya orang lain di luar kedua belas rasul itu. Setelah memilih dan menetapkan 72 misionaris, Yesus mengatur menjadi 36 pasangan. Mereka tidak diperlawankan dengan Para Rasul tetapi juga tidak disebut murid. Mereka utusan Yesus pemberita kabar tentang Kerajaan Allah, sehingga pada dasarnya tidak berbeda dengan Para Rasul. Mereka berangkat berdua-dua, sesuai dengan kebiasaan gereja masa awal, seperti : pasangan Paulus-Barnabas; Paulus-Silas; Petrus-Yohanes; Barnabas-Markus, atau Yudas dengan Silas. Hal ini karena kesaksian dua orang diperlukan dalam masalah penting. Dalam Injil ini Lukas mengatakan tentang semua kota dan tempat, bukan tentang semua kota dan desa, seperti dalam Injil Matius. Pada tempat terhadap dan mengacu kepada semua negeri dan bangsa.

Tuaian memang banyak namun pekerja sedikit, kata banyak sering dikaitkan dengan bangsa-bangsa kafir; yang belum mengenal Allah, sedangkan kata sedikit mengarah pada bangsa Israel. Kelompok 72 orang sama seperti dua belas rasul; dipilih sebagai pekerja namun jumlah mereka kecil, mereka ini hanya sebuah kawanan kecil. Makanya para pengikut Yesus disuruh berdoa, supaya tuaian yang besar itu diimbangi dengan jumlah pekerja yang memadai. Lewat perintah “Mintalah” ini, Yesus secara tidak langsung menyatakan, bahwa baik misi pada utusannya maupun misinya sendiri, tunduk kepada Allah selaku pengelola panenan.
Dalam kisah ini juga ditulis oleh Lukas tentang perintah-perintah dan larangan sebagai misionaris. Dalam perintah ini terkandung pemikiran bahwa, ruang gerak para utusan Yesus itu : “tidak terbatas“. Mereka harus pergi ke semua tempat dan harus melakukannya di setiap masa, sebab semua tempat kelak akan didatangi oleh Yesus. “Sebab siapa saja mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku”.
Yesus juga sudah memperingatkan tentang “bahaya dan tantangan” seorang misionaris. Kontras antara anak domba dan serigala menonjolkan bahaya perlawanan dan permusuhan yang akan dihadapi oleh para misionaris. Hal yang sama dialami oleh Yesus, namun para misionaris tidak usah cemas atau khawatir, bukankah mereka diutus oleh yang diutus Allah sendiri?

Selain itu Yesus memberi sejumlah petunjuk konkret. Mula-mula ia mengemukakan larangan jangan membawa pundi-pundi, kantong perbekalan ataupun kasut. Lalu : jangan memberi salam kepada siapa pun dalam perjalanan. Kedua larangan ini jangan diartikan secara harfiah. Maknanya sungguh mendalam, seorang utusan Yesus belum tentu dipanggil untuk meninggalkan tempat, lalu berjalan tanpa bekal apa pun. Yang terpenting ialah “pemutusan” dengan pola hidup di dunia ini. Manusia yang bukan utusan Yesus, pada umumnya mementingkan “punya dan bicara”. Seorang utusan Yesus tidak boleh terperangkap dalam pola dan mentalitas itu.
Dengan tidak memiliki uang dan dengan tidak menyalami orang sepanjang jalan, relasi para utusan Yesus dengan orang yang akan mereka datangi, tidak akan dilandasi ataupun diukur menurut jenis “pertukaran” yang berlaku umum (berupa uang atau kata-kata yang umumnya tidak berisi atau tidak berbobot).
Hal lain, Yesus juga memperkenalkan semacam strategi dalam misionaris; yang bertujuan menentukan markas bagi misi di kota. Strategi yang diperkenalkan dalam Injil Matius cukup berbeda : Mula-mula utusan Yesus memasuki kota, lalu mencari orang yang layak, dan baru sesudahnya tinggal di rumahnya. Lukas berbeda, terlebih dahulu bicara tentang rumah dan baru kemudian tentang kota. Kata rumah di sini searti dengan keluarga atau rumah tangga.

Katakanlah lebih dahulu : damai sejahtera bagi rumah ini.” Ini petunjuk positif yang mencakup tiga unsur : salam, makan dan lamanya tinggal.
Sepanjang perjalanan para utusan Yesus tidak boleh menyalami orang, tetapi setelah masuk ke rumah, seharusnya mereka beri apa yang mereka miliki, yaitu : “damai Kerajaan Allah”, karunia yang memungkinkan manusia masuk ke dalam Kerajaan itu.
Damai adalah buah Roh atau malah Roh Allah sendiri. Ia bisa hinggap (10:6) pada para penghuni rumah. Roh Allah, damai sejati, mendatangi manusia untuk tinggal di dalam rumahnya, supaya rumah itu menjadi kediaman Allah dan bersuasana persaudaraan dan kasih.
Salam damai itu tidak berbeda dengan pernyataan tentang keselamatan yang terkandung dalam Kerajaan Allah, yang diinagurasikan oleh Yesus.
Orang yang layak menerima damai sejahtera artinya “manusia yang terbuka untuk menerima nilai tertinggi keselamatan yang dibawa oleh Yesus”. Damai sejati adalah kehadiran dan aktivitas karunia penyelamatan Allah yang lengkap. Damai itu dibawa ke dunia oleh Yesus, lalu dibawa kepada masyarakat luas oleh utusan-utusanNya.
Pemberian damai yang tidak diterima manusia, tidak musnah begitu saja; ia kembali kepada pemberinya. Pemberian selalu tertuju kepada manusia, namun tidak “menempel” jika manusia menolaknya.

Petunjuk positif yang kedua berhubungan dengan rumah; menyangkut soal makan minum. Komunitas yang didirikan oleh misionaris, harus menanggung kebutuhannya itu, tetapi para utusan Yesus jangan mempersoalkan apakah makanan yang dihidangkan kepada mereka sudah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Taurat, antara lain : “makanan itu najiskah? atau haramkah?
Pekerja patut mendapat upahnya, hal ini dibahas pula oleh Paulus, antara lain dalam 1 Korintus 9:14, “Tuhan sudah menentukan bahwa orang yang memberitakan kabar baik harus mendapatkan nafkahnya dari pemberitaan”. Lewat ayat ini Lukas membicarakan terjadinya semacam pertukaran : Para utusan Yesus memberikan damai, yaitu sabda yang menyelamatkan, kekuatan Allah sendiri, makanan sejati Kerajaan Allah, sedangkan penghuni rumah membalasnya dengan makanan materiil, makanan duniawi.

Petunjuk ketiga adalah jangan berpindah-pindah, kali ini petunjuk negatif, yang berkaitan dengan lamanya tinggal para utusan Yesus di rumah yang menampung mereka. Bangunan Ilahi, yaitu komunitas kaum beriman akan Yesus, yang dihasilkan oleh misi, membutuhkan periode waktu tertentu, agar stabil dan kuat.
Urutan selanjutnya adalah mengenai sikap para utusan ketika mereka masuk ke dalam sebuah kota yang menerima mereka. Mereka tidak akan berurusan dengan keluarga-keluarga tertentu saja; karya mereka umum dan resmi, sehingga tidak mungkin tidak diketahui oleh para penghuni kota.
Yesus pertama-tama berbicara tentang para penghuni kota yang menerima para utusan Yesus. Tetapi, dalam ayat ini Yesus juga berbicara tentang kota yang tidak menerima mereka. Penolakan akan berakibat fatal, sebab kelak akan terjadi penghakiman.

Makanan dan dalam arti luas keramah-tamahan para warga kota, harus dibalas oleh para utusan Yesus dengan karya penyembuhan (yang searti dengan pemberian damai), sebab setiap penyembuhan adalah karya Roh Allah dan tanda datangnya Kerajaan Allah. Kerajaan Allah selalu membawa kehidupan dan keselamatan dan ditandai kesembuhan, baik badani (dari penyakit fisik) maupun rohani dari (kekacauan sosial), itulah maksud dari “Kerajaan Allah sudah dekat padamu”.

Berkah Dalem.

Related For Hari Biasa, Minggu Biasa XXVIII. “Sesungguhnya Aku Mengutus Kamu Seperti Anak Domba ke Tengah-tengah Serigala”