Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

Pria Dalam Antrian

February 10, 2020 | Sejenak Eling

Pada suatu hari seorang nenek bersama dengan dua cucunya, seorang anak laki-laki dan seorang gadis kecil, berbelanja di sebuah minimarket. Mereka sedang membeli beberapa barang keperluan sehari-hari, dan juga makanan kegemaran sang cucu. Ada beberapa barang yang diambil si gadis kecil yang kemudian oleh neneknya ditaruh kembali ke atas rak barang karena mereka harus mengirit.

Si gadis kecil merasa sedih, untuk menghibur cucunya ini sang nenek berkata, “Kenapa kamu tidak membeli sesuatu yang spesial untuk kakekmu karena hari ini kakek berulang tahun.”

Maka kemudian si gadis kecil pergi mencari ke tempat kue dan roti. Dia bermaksud mengambil sebuah kue ulang tahun untuk kakeknya. Tetapi di rak kue, seorang pemuda dewasa lebih dulu mengambil kue tar itu, yang mana si gadis kecil juga ingin mengambilnya. Demi melihat si gadis kecil itu berwajah sedih memelas, karena ingin membeli kue yang sama. Si pemuda tadi menjadi tidak tega dan akhirnya memberikan kue itu kepada si gadis kecil itu. Kue tar itu adalah kue terakhir yang tersedia.

Pada saat akan membayar belanjaannya, ternyata setelah dihitung uang si nenek tidak cukup untuk membayar total belanjaannya walau juga sudah ditambah uang jajan cucu laki-lakinya. Karena tidak cukup untuk membayar semua belanjaannya, maka dengan terpaksa kue ulang tahun untuk sang kakek dikembalikan, “Maaf bolehkah saya kembalikan kuenya, kami tidak jadi beli?”
“Boleh saja,” kata kasir minimarket itu.

Mendengar kalau kue tarnya tidak jadi dibeli, gadis kecil itu memohon kepada neneknya, “Saya mohon, beli kue itu untuk ulang tahun kakek. Saya tidak akan minta yang lain lagi.”

“Sayang,” nenek menjawab.
“Lain kali ya, saat ini kita tidak cukup uang untuk membelinya.”

Si gadis kecil menjawab, “Waktu dulu juga bilang begitu.”

Dengan raut muka sedih, gadis kecil itu pergi untuk membawa barang-barang yang sudah dibayar.

Di barisan antrian belanja itu, sang pemuda yang tadi ingin membeli kue tar itu melihat seluruh kejadian itu. Saat giliran dia untuk membayar belanjaan di kasir, dia bertanya kepada petugas kasir itu, “Maaf, apakah kue itu tidak jadi dibeli?”

“Ya, tidak jadi dibeli,” jawab petugas kasir.

“Kalau begitu saya yang ambil,” kata pemuda tadi. Ia kemudian membayar kue itu dan seluruh belanjaannya.
Setelah itu pemuda itu mengejar gadis kecil tadi dan neneknya yang beranjak pulang.

“Hai, dik, tunggu sebentar. Hallo, ini kue untuk kamu.”

Namun sang nenek berkata, “Tidak, jangan.. kami tidak dapat menerimanya.”

Tetapi si pemuda itu berkata, “Tolong, bisakah diterima saja.”

“Tidak ada alasan bagi kamu memberikan kuenya untuk kami,” kata sang nenek.

Si pemuda itu kemudian bercerita, “Sebenarnya saat saya berumur tujuh tahun, ibu saya ingin memberikan saya kue, karena saya ingin sekali kue ini, tapi pada saat itu ibu tidak punya cukup uang, sehingga kami batal membeli kue ini. Saat di kasir ketika akan membayar, ibu berkata, “Bisa enggak kita beli kue yang lain? Tapi saya berkata : “Ma, tapi hari ini hari ulang tahun saya, bolehkah saya memilih kue yang saya inginkan sendiri? Saya mohon.”

“Maafkan mamah,” ibuku berkata.

Lalu ada seorang pria yang juga berbelanja pada saat itu. Saya tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya, lalu dia menghampiri kami dan berkata : “Ini ambil kuenya, selamat ulang tahun.”

Ternyata pria itu yang membayarkan kue ulang tahunku. Saya tidak tahu siapa namanya? Saya tidak memiliki kesempatan untuk bilang “terima kasih”. Saya tidak melupakannya orang yang ada dalam antrian itu.

“Jadi terimalah kue ini,” kata pemuda tadi.

“Terima kasih,” kata nenek.

“Tidak, saya yang berterima kasih,” kata pemuda tadi.

“Bolehkah saya minta nomor telepon kamu, biar saya bisa membayar kembali suatu hari, saat kami punya uangnya,” kata sang nenek sambil menyerahkan selembar kertas dan bolpen.

Pemuda itu menulis sesuatu kemudian dia berkata kepada gadis kecil tadi sambil menyerahkan kertas itu, “Berjanjilah padaku ya, suatu hari saat kamu mampu menolong seseorang, kamu akan melakukannya.”

“Bolehkah saya tahu nama anda, tuan?” si nenek bertanya lagi.

Pemuda itu hanya tersenyum, lalu menjawab, “Baiklah….sebut saja saya; orang dalam antrian.”

Kemudian dia melambaikan tangan dan pergi. Saat itu sedang gerimis dan sang gadis kecil melihat pemuda itu dengan tersenyum ceria dan berjanji, untuk melakukan apa yang diperintahkan pemuda tadi.

Setiba di rumah, gadis kecil itu mencari kakeknya, “Kakek… kakek… saya memilih kue ini untuk ulang tahun kakek. Selamat ulang tahun kakek.”

“Wah… ini kesukaan saya,” kata sang kakek yang duduk di kursi roda.
“Terima kasih,” kata kakek kemudian.

“Ayo, kita pasang lilin diatas kuenya,” kata kakak laki-laki kepada adik perempuannya itu.

“Hati-hati,” kata sang kakek.

Kemudian mereka membawa kue itu untuk memasang lilin di atas kue tersebut. Sementara itu sang kakek berkata kepada istrinya, “Kamu tidak seharusnya membelanjakan uangmu untuk memberikan aku kue ulang tahun, kita harus berhemat!”

“Tetapi sesungguhnya seorang pemuda baik hati yang membayarnya,” kata istrinya.
Dan cucu perempuannya itu memberikan kertas kepada sang kakek, “Dia memberikan saya catatan pada kertas kecil ini.”

Sang kakek kemudian membuka dan membaca tulisan yang ada dalam kertas itu.

“Perbuatan baik yang sederhana akan menghasilkan riak gelombang yang tak terbatas….

….yang akan kembali kepadamu.”

Si kakek teringat peristiwa masa lalu, ketika dia membelikan kue ulang tahun kepada seorang anak laki-laki yang ibunya tidak mampu membayarnya, karena tidak punya cukup uang.

“Mohon beri tahukan namamu, dan mohon tuliskan alamatnya. Supaya kami bisa memberikan uangnya nanti saat punya uang,” kata ibu anak itu.

Pria itu hanya tersenyum, lalu menulis sesuatu di kertas dan memberikannya kepada anak itu. Sebuah kata-kata yang sama : “Perbuatan baik yang sederhana akan menghasilkan riak gelombang yang tak terbatas….

….yang akan kembali kepadamu.” Dan anak-anak laki-laki itu menjawab : “TERIMA KASIH”

Pria yang baik itu adalah sang Kakek…

Related For Pria Dalam Antrian