Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

Santo Lusianus dari Antiokhia

January 7, 2020 | Orang Kudus

Para Kudus – 7 Januari

Lusianus Martir, Lucian dari Drepanum, Lucian dari Nicomedia
Lucian of Antioch

Santo Lusianus lahir sekitar tahun 240 di kota Samosta (sekarang kota ini bernama Samsat dan berada di wilyah provinsi Adiyaman – Turki) dalam sebuah keluarga kristen yang saleh. Setelah kematian kedua orang tuanya, Lusianus memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengabdi sebagai pelayan umat Tuhan. Ia lalu meninggalkan Samosta dan berangkat ke kota Edessa untuk dididik menjadi seorang imam. Di Edessa, pemuda Lusianus mulai mempraktekkan pola hidup seorang pertapa sambil belajar Teologi, Filsafat, Retorika dan juga Sastra. Setelah menamatkan pendidikannya, ia pindah ke Antiokhia.

Di kota tempat dimana rasul Paulus dan Barnabas pernah tinggal dan mewartakan iman Kristiani, Lusianus ditahbiskan menjadi seorang diakon, lalu beberapa tahun kemudian ditahbiskan menjadi imam. Kepadanya diberikan tanggung-jawab sebagai kepala sekolah Teologi di Anthiokia, sebuah sekolah tinggi ternama pada masa itu. Salah seorang muridnya yang menonjol adalah Arius, si pencetus aliran bidaah Arianisme. Lusianus juga menjalin persahabatan dengan uskup Antiokhia saat itu, Paulus, yang juga berasal dari Samosta. Kelak, Arius dengan ajaran Arianisme nya serta Uskup Paulus dari Samosta dan para pengikutnya dinyatakan sesat dan di ekskomunikasi oleh Gereja. Lusianus sempat di Ekskominukasi karena hubungannya dengan kedua tokoh sesat itu, namun segera ia dapat membuktikan Kesetiaannya akan ajaran Gereja yang sejati sehingga Ekskomunikasi nya dicabut dan hubungannya dengan Gereja dipulihkan.

Sebagai seorang ahli Teologi dan sastra, Lusianus dapat melihat banyak kekurangan yang ada dalam terjemahan Alkitab pada masa itu. Baik dalam terjemahan Septuaginta maupun Alkitab Perjanjian Baru terjemahan Yunani. Ia menuliskan banyak catatan kritis tentang hal ini lalu berupaya membuat terjemahan yang lebih baik. Terjemahan Santo Lusianus ini kelak banyak digunakan oleh bapa gereja Santo Yohanes Krisostomus.

Tulisan Santo Lusianus juga sangat berguna bagi Santo Hieronimus, yang pada akhir abad ke-4 ditugaskan oleh paus Santo Damasus I untuk menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin. Hieronimus menyebutkan sumber dari terjemahannya pada kitab Perjanjian Lama berbahasa Yunani sebagai “Exemplaria Luciana”. Terjemahan Lusianus juga dikatakan menjadi dasar dari “Textus Receptus” yang dikerjakan oleh Desiderius Erasmus meski sebagian ahli meragukannya.

“Textus Receptus” adalah naskah Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani karya Desiderius Erasmus, seorang biarawan berkebangsaan Belanda yang juga ahli Filsafat dan Theologi Katolik. Sejak pertama kali diterbitkan di Basel pada tahun 1516; Textus Receptus menjadi terjemahan Alkitab yang paling bisa diterima oleh semua kalangan. Karya ini menjadi terjemahan dasar dari terjemahan Alkitab yang lain seperti : Alkitab terjemahan Spanyol, RV atau Reina-Valera, Alkitab Terjemahan Inggris versi William Tyndale dan versi KJV = King James Version, serta alkitab bahasa Jerman yang dikerjakan oleh Martin luther.
Selama penganiayaan Kaisar Maximinus Daia, Santo Lucianus ditangkap dan dipenjarakan di Nikomedia. Sebagai seorang warga negara Romawi, Lusianus tidak bisa dihukum mati tanpa diadili. Karena itu ia hanya ditahan saja dalam penjara sampai sembilan tahun. Selama dalam penjara, ia harus mengalami banyak penyiksaan keji demi imannya akan Yesus Kristus. Dua kali ia dibawa kepengadilan dan dua kali pula ia mampu membela dirinya dan imannya dengan menjawab semua pertanyaan hakim dengan sebuah kalimat pendek yang penuh makna : “Saya seorang Kristen..!!!”. Hakim tidak mampu memberikan keputusan apapun, dan Lusianus dikembalikan ke penjara.

Hari kematian santo Lusianus tidak bisa dipastikan. Sebagian tradisi menyakini bahwa ia telah dibiarkan mati kelaparan dalam penjara pada tahun 312, namun ada tradisi lain menyakini bahwa Lusianus gugur sebagai saksi Kristus dengan cara dipenggal. Sebuah tradisi lain lagi yang tidak jelas asal-usulnya menyatakan bahwa Santo Lusianus dibunuh dengan cara ditenggelamkan di laut dan tubuhnya dibawa kembali ke daratan oleh ikan lumba-lumba. Bagaimanapun cara kematiannya, namun satu hal yang pasti adalah; bahwa Santo Lusianus telah gugur dalam kekokohan iman yang tak tergoyahkan.

Ia dimakamkan di kota Drepanum, kota yang kemudian berganti nama menjadi Helenapolis untuk menghormati santa Helena, ibunda Kaisar Konstantinus Agung. Gereja Katolik Roma merayakan pesta Santo Lusianus pada setiap tanggal 7 Januari dan Gereja Ortodoks memperingati Santo Lusianus pada setiap tanggal 15 Oktober.

Related For Santo Lusianus dari Antiokhia