Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

KAMIS PUTIH “MENGENANGKAN PERJAMUAN TUHAN”

April 10, 2020 | Bacaan & Renungan

KAMIS PUTIH
MENGENANGKAN PERJAMUAN TUHAN
Tahun A 2020

Kamis, 9 April 2020

I. RITUS PEMBUKA

Lagu Pembuka:
Andaikan Aku Pahami (PS. 661)
Andaikan aku pahami bahasa semuanya Hanyalah bahasa cinta kunci setiap hati Ajarilah kami Tuhan, bahasa cinta kasih

TANDA SALIB
I Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U Amin.
I Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus besertamu.
U Dan sertamu juga.

Salam dan Kata Pembuka

I Saudari-saudaraku yang terkasih, pada malam ini kita mengenang peristiwa Yesus mengadakan “Perjamuan Malam Terakhir” sebelum sengsara-Nya. Selain mewariskan pesan-pesan kasih sebagai wasiat iman, Ia juga membasuh kaki murid-muridNya sebagai pra tanda, bahwa Ia siap menyatakan kasih-Nya sampai sehabis-habisnya. Yesus yang mencurahkan kasih sampai sehabis-habisnya itulah, yang kita kenangkan di dalam Sakramen Ekaristi, yang Ia adakan pada perjamuan malam yang terakhir dan Ia wariskan kepada kita dengan mengatakan : “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”. Dalam rasa syukur atas kasih setia Allah itu marilah kita awali perayaan ekaristi ini.

SERUAN TOBAT
TUHAN KASIHANILAH KAMI

MADAH KEMULIAAN:
Misa Kita II

DOA PEMBUKA

I Marilah berdoa:
Allah Bapa Maha Pengasih, pada malam hari menjelang sengsara-Nya, Putra-Mu menetapkan perjamuan Ekaristi sebagai lambang cinta kasih dan kenangan akan korban salib-Nya. Semoga kami dapat menimba kepenuhan kasih dan kekuatan dari misteri luhur ini, untuk mewujudkannya dalam hidup kami sehari-hari, serta diperkenankan menikmati buah penebusan-Nya. Sebab Dialah Tuhan dan Pengantara kami yang bersama dengan Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa.

U Amin

II. LITURGI SABDA

BACAAN PERTAMA

Pembacaan dari Kitab Keluaran (Kel 12:1-8.11-14)

Pada waktu itu berfirmanlah Tuhan kepada Musa dan Harun di tanah Mesir, “Bulan ini akan menjadi permulaan segala bulan bagimu, bulan yang pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaat Israel, ‘Pada tanggal sepuluh bulan ini hendaklah diambil seekor anak domba oleh masing-masing menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiaptiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk menghabiskan seekor anak domba, maka hendaklah ia bersama dengan tetangga yang terdekat mengambil seekor menurut jumlah jiwa; Tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiaptiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela dan berumur satu tahun; kamu boleh mengambil domba, boleh kambing. Anak domba itu harus kamu kurung sampai tanggal empat belas bulan ini. Lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul harus menyembelihnya pada senja hari. Darahnya harus diambil sedikit dan dioleskan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas rumah, tempat orang-orang makan anak domba itu. Pada malam itu juga mereka harus memakan dagingnya yang dipanggang; daging panggang itu harus mereka makan dengan roti yang tidak beragi dan sayuran pahit. Beginilah kamu harus memakannya: pinggangmu berikat, kaki berkasut, dan tongkat ada di tanganmu. Hendaknya kamu memakannya cepat-cepat. Itulah Paskah bagi Tuhan. Sebab pada malam ini Aku akan menjelajahi negeri Mesir, dan membunuh semua anak sulung, baik anak sulung manusia maupun anak sulung hewan, dan semua dewata Mesir akan Kujatuhi hukuman. Akulah Tuhan. Adapun darah domba itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah tempat kamu tinggal. Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan melewati kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, pada saat Aku menghukum negeri Mesir. Hari ini harus menjadi hari peringatan bagimu, dan harus kamu rayakan sebagai hari raya bagi Tuhan turun temurun.”

Demikianlah sabda Tuhan.
U Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan

Ulangan: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu. Lakukanlah ini akan peringatan kepadaKu.

Ayat :
1. Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
2. Sungguh berhargalah di mata Tuhan, kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya Tuhan, aku hamba-Mu; aku hamba-Mu, anak dari sahaya-Mu. Engkau telah melepaskan belengguku.
3. Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, dan aku akan menyerukan nama Tuhan. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya.

BACAAN KEDUA

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (1 Kor 11:23-26)

Saudara-saudara, apa yang telah kuteruskan kepadamu ini telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti, dan setelah mengucap syukur atasnya, Ia memecahmecahkan roti itu seraya berkata, “Inilah Tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dalam darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku.” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang.

Demikianlah sabda Tuhan.
U Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil

Ulangan: Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

BACAAN INJIL

I Tuhan sertamu.
U Dan sertamu juga.
I Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (Yoh 13:1-15)
U Dimuliakanlah Tuhan.

Sebelum Hari Raya Paskah mulai, Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir. Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis membisikkan dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, rencana untuk mengkhianati Yesus. Yesus tahu, bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya, lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak mengerti sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya, “Selama-lamanya Engkau tidak akan membasuh kakiku!” Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian bersama Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya, “Barangsiapa sudah mandi, cukuplah ia membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Kamu pun sudah bersih, hanya tidak semua!” Yesus tahu siapa yang akan menyerahkan Dia; karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.” Sesudah membasuh kaki mereka, Yesus mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka. “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat padamu.”

Demikianlah Injil Tuhan.
U Terpujilah Kristus.

Homili (Kardinal Ignatius Suharyo)

Saudari-saudaraku yang terkasih, tidak seperti biasanya dalam Perayaan Kamis Putih malam ini, tidak ada upacara pembasuhan kaki. Tersirat suatu pesan tersembunyi, bahwa upacara bukanlah yang paling penting! Yang paling penting adalah melaksanakan pesan, yang dipesankan oleh upacara itu. Melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus, sebagaimana dinyatakan pada awal Injil yang dibacakan hari ini. “Mengasihi sampai akhir, mengasihi sampai sehabis-habisnya.”

Saudari-saudaraku yang terkasih, ketika renungan saya sampai di sini. Saya ingat lagi akan satu batu relief, yang dapat kita temukan di Candi Borobudur. Pada batu relief itu tergambar seorang; yang sedang berdiri agak bongkok dan di depannya ada empat binatang : kera yang membawa pisang, berang-berang yang membawa ikan, serigala yang membawa mangkok berisi air susu dan kelinci yang tidak membawa apa-apa.

Di balik relief itu, ada kisah mengenai seorang yang ingin mencapai kesempurnaan hidup. Di dalam pencariannya, ia berubah menjadi kelinci, dan di dalam pengembaraan, dia berjumpa dengan tiga teman; ketiga binatang tadi. Pada suatu titik, keempat binatang itu berjumpa dengan seorang pengembara yang tampak lelah, letih dan lesu.

Ke empat binatang itu berhenti dan satu per satu berkata, yang pertama kera yang membawa pisang. Dia berkata begini, “Bapak tampak lelah, ini saya membawa pisang, makanlah.”

Berang-berang mengatakan hal yang sama dan memberikan ikan yang dibawanya kepada pengembara itu.

Serigala pun demikian, ia memberikan cawan, mangkok berisi air susu kepada pengembara tadi sambil berkata, “Silakan bapak minum dan bapak akan kuat, untuk melanjutkan perjalanan.”

Terakhir adalah kelinci, yang tidak bawa bekal apa pun. Sesudah berpikir sejenak, ia berkata begini, “Bapak.. saya tidak membawa apa-apa, oleh karena itu; tangkaplah saya, sembelihlah saya, masaklah saya, dan makanlah saya.”

Ceritanya berhenti sampai di situ, tidak penting dilanjutkan dengan menceritakan apakah kelinci itu sungguh ditangkap atau tidak?

Pesannya sangat jelas, yaitu bahwa jalan menuju kesempurnaan hidup sebagai manusia adalah jalan peduli. Keempat binatang itu berhenti ketika mereka berjumpa dengan seorang pengembara yang tampak lelah. Dan kepedulian itu akhirnya berujung pada kerelaan berbagi kehidupan, dalam berbagai macam bentuknya.

Saudari-saudaraku yang terkasih, itu tadi hanyalah dongeng. Kita punya yang bukan dongeng, yaitu Yesus Kristus yang memberikan hidupNya demi keselamatan kita. Selama hidupNya, Ia berjumpa dengan sekian banyak orang-orang yang lelah, dan ketika berjumpa dengan orang-orang seperti itu, selalu dikatakan “Tergeraklah hatiNya oleh belas-kasihan”. Kepada mereka-mereka yang lelah itu, Ia berkata, “Marilah kepadaku semua yang lelah, letih, lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Belas kasih Yesus tidak tanggung-tanggung, Ia mencurahkan kasihNya sampai sehabis-habisnya, dengan rela wafat di kayu salib, untuk keselamatan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih, pada segala zaman dan setiap waktu, juga pada zaman kita sekarang ini. Kita banyak berjumpa dengan saudari-saudara kita yang lelah atau bahkan mungkin kita sendiri, dalam kadar tertentu juga merasakan kelelahan itu.
Lelah karena hari demi hari, harus berjuang untuk bertahan hidup.
Lelah karena selalu dikalahkan di dalam usaha, untuk menerima keadilan.
Lelah karena harus menghadapi wabah korona, virus Corona 19 dengan akibat-akibatnya yang sangat luas.
Lelah karena kita merasa bahwa kejahatan tampaknya lebih kuat daripada kebaikan. Kebohongan tampaknya lebih kuat, lebih berkuasa daripada kebenaran.

Saudari-saudaraku yang terkasih, marilah di dalam keadaan seperti ini, kita bersyukur kepada Tuhan, karena di dalam Ekraristi yang diwariskan oleh Yesus dan kita rayakan; Yesus tetap hadir di tengah-tengah kita. Dan kita selalu mendengar kata-kataNya yang meneguhkan, “Marilah kamu semua, yang lelah, letih, lesu, dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Marilah kita pun mohon, agar kepada kita dianugerahkan hati yang berbelas kasih, seperti hati Yesus sendiri yang selalu tergerak oleh belas kasihan. Kita mohon pula kekuatan, agar dapat mewujudkan belas kasih itu kepada siapa pun yang kita jumpai, di dalam kehidupan kita; semakin hari semakin kreatif.

Semoga kita yang merayakan ekaristi, dianugerahi kelegaan itu, dianugerahi semangat seperti hati Yesus sendiri. Dengan harapan ini marilah kita lanjutkan ibadat kita dengan memanjatkan doa umat.

DOA UMAT

III. LITURGI EKARISTI

Lagu Persiapan Persembahan:
Kami Hendak Menghadap (PS 596)

Kami hendak menghadap tahta kerahiman Tempat orang berdosa beroleh kasihan Walau kami durhaka melawan cinta-Mu Namun kami percaya belas kasihan-Mu.

Doa Persiapan Persembahan

I Allah Bapa Penyelamat kami, perkenankanlah kami merayakan misteri ini dengan pantas karena setiap kali kenangan akan kurban ini dirayakan, terlaksanalah karya penebusan kami. Terimalah dan persatukanlah persembahan kami pula dengan kurban Kristus, PutraMu, sehingga mendatangkan rahmat keselamatan bagi kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U Amin.

PREFASI EKARISTI

KUDUS: Misa Kita II

DOA SYUKUR AGUNG

BAPA KAMI (PS 404)
DOA DAMAI
ANAK DOMBA ALLAH

KOMUNI

Doa Komuni Batin

Yesus-ku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mencintai-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku. Seolah-olah Engkau telah datang, aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu; jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin.

DOA SESUDAH KOMUNI

I Marilah berdoa:
Allah Bapa kami di surga, ingatlah akan dunia ciptaan-Mu ini, yang Kautentukan sebagai tempat kediaman bagi semua orang. Peliharalah ikatan dan hubungan kami dengan Dikau, agar kami tetap hidup dengan harapan dan iman yang mantap. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

IV. RITUS PENUTUP

UCAPAN TERIMA KASIH

BERKAT DAN PENGUTUSAN

I Tuhan sertamu.
U Dan sertamu juga.
I Semoga saudara sekalian dilindungi, dibimbing, dan diberkati oleh Allah yang Mahakuasa Bapa † dan Putra dan Roh Kudus.
U Amin.
I Saudara sekalian, Perayaan Ekaristi Kamis Putih telah selesai
U Syukur kepada Allah
I Marilah pergi, kita diutus
U Amin

Lagu Penutup

Tinggallah Bersama Aku (Taize)
Tinggallah bersama Aku, Di dalam doa… Di dalam doa

Bacaan Kitab Suci dan Renungan Harian lainnya dapat dibaca di Bacaan & Renungan

Related For KAMIS PUTIH “MENGENANGKAN PERJAMUAN TUHAN”