Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

Sampai Kapan?

February 21, 2020 | Sejenak Eling

 

Dahulu di kampungnya Nasruddin dikenal sebagai satu-satunya orang yang mempunyai kesempatan mengunjungi berbagai tempat ke luar negeri. Akibatnya dia sering didatangi oleh banyak orang untuk bertanya berbagai macam hal. Namun ada diantaranya sekelompok orang yang iri terhadap dia. Mereka selalu mencoba berbagai cara untuk membuat Nasruddin kelihatan bodoh dan buruk dimata orang. Mereka sering datang ke tempat Nasruddin dan menanyakan berbagai pertanyaan yang sulit. Tetapi untungnya Nasruddin selalu dapat menjawab segala pertanyaan mereka dengan baik.

Pada suatu hari mereka datang ke tempat Nasruddin dengan sebuah rencana licik. Mereka sudah menyiapkan sebuah rencana brilian untuk menjatuhkan Nasruddin, mereka merencanakan sebuah pertanyaan yang abstrak kepadanya.

“Nasruddin, coba apa pendapat kamu, sampai kapan peristiwa manusia lahir sampai dengan meninggal akan berlangsung?” tanya mereka.

Itu adalah sebuah pertanyaan yang sulit dan abstrak. Tetapi hal itu tidak mempengaruhi Nasruddin. Nasruddin menarik napas panjang, kemudian merapikan posisi topinya, lalu memperhatikan mereka satu per satu.

“Itu mah pertanyaan mudah,” jawab Nasruddin.

“Apakah kalian tidak bisa memberikan pertanyaan yang lebih sulit?” dia melanjutkan kata-katanya.

“Apa?” salah seorang dari mereka menjawab. Mereka sangat tersinggung dengan pernyataan Nasruddin.

“Kalau pertanyaan itu mudah, coba jawab!” kata yang lain menimpali, karena penasaran ingin mendapatkan jawaban dari Nasruddin.

“Pertanyaan kalian itu kan, sampai kapan peristiwa manusia dari lahir sampai meninggal akan terus berlangsung. Bukankah begitu?” Nasruddin mengulangi pertanyaan mereka.

“Iya betul, coba apa jawaban kamu?!” mereka mendesak karena tidak sabar ingin mendengarkan jawaban Nasruddin

“Ya tentu saja sampai surga dan neraka itu benar-benar penuh.”

****
Yakobus dalam suratnya menegor gaya orang-orang yang imannya tidak dilanjutkan dengan perbuatan. Baginya iman itu ialah yang harus mengajarkan kita untuk melakukan kesaksian dengan perbuatan nyata. Iman yang tumbuh, yang dipupuk dalam doa dan berbagai kesalehan, kebaikan, yang disuburkan dalam praktek-praktek devosi menjadi sempurna kalau kemudian menggerakkan orang untuk berbuat kasih. Iman yang tidak dilanjutkan dalam perbuatan hanya untuk memenuhi kesalehan individual pada hakikatnya adalah mati.

Untuk menghadirkan Gereja yang bersaksi dalam pekerjaan-pekerjaan Allah yang nyata tidak mudah dan memerlukan semangat kemartiran. Bahkan Yesus menegaskan, “Barangsiapa mengikuti Aku, tetapi tidak menyangkal diri dan tidak memikul salib tidak bisa menjadi murid sejati.”

Menyangkal diri dan memikul salib adalah sikap rela berkorban. Pengorbanan yang nyata dalam kekristenan kita adalah ketika kita masih memiliki keberanian berbagi. Hidup kita menjadi berkat untuk sesama.
“Iman tanpa perbuatan adalah mati”.

Related For Sampai Kapan?