Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

Pribadi Yang Rendah Hati

February 25, 2020 | Sejenak Eling

Pribadi yang rendah hati

Ada seorang anak Papua berusia 10 tahun, namanya Jacobus. Suatu hari Jacobus berlari-lari menemui Bruder Suryadi, yang menjadi guru di pedalaman Papua.

Jacobus meminta Bruder Yadi untuk mengobati anjingnya yang sekarat. Bruder Yadi tersenyum dan mengiyakan.
Mereka berdua menuju ke rumah Jacobus.

Melihat anjing tersebut sekarat, Bruder Yadi yang asli Solo itu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjing dan berkata dalam bahasa Jawa,

“Su, asu ( njing, anjing ), nek kowe arep mati, yo mati-ò. (kalau kamu mau mati, ya mati aja)”.
“Nek arep urip, yo waras-ò (kalau mau hidup, sembuhlah)”.

Jacobus yang tidak bisa bahasa Jawa berpikir Bruder Suryadi menggunakan bahasa Latin.

Diam-diam Jacobus menghafalkan kata-kata yang dia kira mantra atau doa itu.
Setelah itu Bruder Yadi langsung pulang.

Beberapa hari kemudian, Jacobus lari-lari ke rumah kediaman Bruder Yadi, bermaksud melaporkan kalau anjingnya sudah sembuh.

Namun ternyata, Bruder Yadi sedang sakit. Jacobus terkejut, dan langsung menuju ke kamar Bruder Yadi, dia segera menempelkan telapak tangannya ke dahi Bruder Yadi.

Selanjutnya Jacobus membaca mantra, seperti yang diucapkan bruder…
“Su, asu, nek kowe arep mati, yo mati o. Nek arep urip, yo waras o.”

Bruder Yadi kaget sekali mendengar itu tetapi selanjutnya langsung tertawa terbahak-bahak dan segera sembuh dari sakitnya.

Semoga tersenyum dan tertawa setelah membaca ini, yang sakit jadi sembuh dan pulih yaaa..

Sebab hati yang gembira adalah obat yg manjur, tersenyum dan tertawalah..

***

Tidaklah mudah memahami Firman Tuhan yang mengatakan, “Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati”. Mengapa? Jawabannya sangat nyata dan manusiawi, bahwa tren zaman sekarang adalah budaya mengumpulkan! Orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan apa yang diinginkan bahkan kerap kali dilakukan dengan segala cara. Karena hawa nafsu berlomba-lomba mencari harta duniawi itulah yang sering kali membuat manusia saling membunuh.

Apa yang dialami para murid Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini yaitu dari Markus 9:30-37, juga sama bahwa mereka karena merebut siapa yang paling hebat dan paling besar. Kekacauan dan tiadanya belas kasih dan kepedulian terjadi karena kita sering berebut siapa yang terbesar. Padahal yang terbesar hanya Allah sendiri. Yesus menegaskan bahwa kehebatan sebagai murid-Nya adalah ketika kita dengan tulus merendahkan hati di hadapan sesama dan melayani sesama.
Pada situasi dimana para Murid-Nya itu mempertengkarkan siapa yang terbesar, Yesus mengambil seorang anak kecil sebagai contoh dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Anak kecil cukup memainkan peranan dalam ajaran Yesus sebagai teladan, kerendahan hati, kepolosan, kemurnian. Untuk masuk kerajaan surga murid Yesus diharuskan menjadi seperti anak kecil.

renungan harian lainnya dapat dibaca di sejenak eling

Related For Pribadi Yang Rendah Hati