Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

Jatuh Cinta Setiap Hari

September 29, 2019 | Sejenak Eling

Setiap orang dewasa yang normal pernah mengalami jatuh cinta. Kalau sedang jatuh cinta, dunia rasanya hanya milik “kita berdua”, yang lain hanya numpang atau paling banter indekost dan ngontrak. Semua hal kelihatan indah dan penuh kenikmatan. Jangankan kelebihan, kekurangan pun amat mudah diterima sebagai sebuah sisi yang mengandung unsur menyenangkan. Setiap tarikan napas bagaikan aroma yang segar di pegunungan. Kalau bisa, mesin waktu pun dibuat berhenti. Dengan demikian, kondisi hidup yang serba menyenangkan bisa bertahan selamanya.

Bayangkanlah sekarang sebuah lingkungan kerja yang dihuni hanya oleh manusia manusia yang pekerjaannya hanya satu: jatuh cinta. Hari ini jatuh cinta pada pekerjaan. Besoknya jatuh cinta pada diri sendiri. Lusa jatuh cinta pada suami atau istri. Tiga hari kemudian jatuh cinta pada anak-anak. Hari berikutnya jatuh cinta pada orang-tua. Akhirnya, jatuh cinta pada mertua. Singkat kata, lima hari kerjanya diisi penuh dengan jadwal jatuh cinta. Siklus kerja mingguan dengan warna dan spirit hidup jatuh cinta. Wow…, betapa indahnya!

Mari kita mulai dengan jatuh cinta pada pekerjaan. Tidak banyak orang yang bisa hidup tenang tanpa berganti-ganti pekerjaan, setiap kali tidak suka. Kalaupun ada orang pintar yang mudah diterima di sana-sini, pada suatu titik ada juga batas kebosanan kegiatan berpindah-pindah kerja itu. Tempat kerja yang satu tidak jauh berbeda dengan tempat kerja yang lain. Di tempat kerja manapun, selalu ada masalah, ada tantangan, ada ketidakcocokan antar orang, ada konflik, dan deretan hal sejenis. Setelah jadi pengusaha pun, deretan hal tadi akan senantiasa hadir.

Kalau berkaitan dengan kenaikan gaji, promosi jabatan dan hal-hal menyenangkan lainnya, kita mudah menerimanya dengan ikhlas. Namun, berkaitan dengan hal-hal negatif seperti konflik dengan rekan sekerja, dan lain-lain, diperlukan banyak usaha agar kita bisa jatuh cinta pada pekerjaan.

Jatuh cinta yang kedua adalah jatuh cinta pada diri sendiri. Orang yang teramat sering jatuh cinta pada dirinya, apalagi senantiasa awas akan bahaya kesombongan, sebenarnya sudah sampai pada titik lebih tinggi dari sekadar bahagia. Kebahagiaan masih dibayang- bayangi oleh kesedihan. Namun, pecinta diri sendiri secara penuh tidak lagi dikejar bayang-bayang kesedihan atau mengejar bayangan kebahagiaan. Bayangan itu sendiri sudah tidak ada karena sudah menyatu dengan sang aku. Tidak ada orang yang lebih beruntung dari orang yang sudah sampai di titik ini.

Di tempat mana pun, di waktu kapan pun, dan bersama siapa pun, ia selalu bercumbu dengan sang aku. suka-duka, sedih-bahagia, siang-malam, rindu-benci dan dikotomi hidup sejenis, sudah musnah bersamaan dengan jatuh cinta dia pada sang aku. Tidak ada penolakan terhadap sang aku, yang ada hanya penerimaan. Tidak ada keterpaksaan, yang ada hanyalah sikap ikhlas yang senantiasa mengalir dalam setiap kesempatan. Tidak ada pembandingan, yang ada hanyalah ketulusan untuk melihat bahwa saya ini adalah saya. Nikmat sekali, bukan? Lebih-lebih ongkos ke arah itu tidak terlalu mahal, hanya memerlukan keikhlasan untuk menerima dan kemudian mencintai sang aku. Itu saja.

Jatuh cinta berikutnya adalah jatuh cinta pada keluarga. Suami/istri, anak, orang-tua, mertua, serta anggota keluarga lainnya adalah serangkaian manusia yang berkontribusi besar terhadap bangunan hidup kita. Tanpa orang tua dan mertua, mungkin tidak ada kehidupan. Tanpa istri/suami serta anak, rumah akan menjadi tempat yang kering, sepi, dan sunyi. Rumah adalah tempat yang paling indah di dunia ini. Di situlah orang-orang yang kita cintai, yang menerima diri kita secara utuh, tinggal dan menunggu kedatangan kita setiap hari.

Memasuki pintu rumah, terutama ketika baru pulang dari tugas luar kota, seperti memasuki gerbang surga. Betapa pun mewahnya hotel tempat kita menginap, betapa pun bersihnya bandar udara yang kita lalui, betapa pun cantiknya dan gagahnya orang-orang yang ditemui dalam perjalanan, itu semua tetap tidak bisa menggantikan posisi orang orang di rumah.

Perhatian, kesabaran dan kesediaan untuk menerima seutuhnya hanyalah hal murah, sederhana, dan dimiliki setiap orang yang bisa menimbulkan hasrat orang lain untuk jatuh cinta pada diri kita. Seperti pernah ditulis Deborah Waitley, to love another is to look at the good (mencintai berarti melihat aspek baik dari orang lain). Atau, mirip dengan apa pernah ditulis Katherine De Burb, love has nothing to do what you are expecting to get – only with what you are expecting to give- which is everything (cinta berkaitan dengan apa yang kita berikan, dan di sinilah letak kebesaran cinta). Kalau demikian, bukankah tidak terlalu sulit membuat orang lain jatuh cinta pada diri kita sendiri setiap hari?

Tuhan tambahkanlah cintaku.

 

“Di Sudut Hati”, Anthony Harton

Related For Jatuh Cinta Setiap Hari