Info Katolik

Aneka Info Seputar Katolik

Menu

Kisah Seorang Romo, yang Menjamah Jubah Tuhan Yesus

January 22, 2020 | Sejenak Eling

“Asal saja kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh”

Romo Joseph

Salam damai sejahtera saudara-saudaraku terkasih. Ini merupakan cerita dari pengalaman pribadi seorang romo yang mengalami kasih Tuhan dalam hidupnya.

Begini kisahnya :
“Kali ini adalah cerita saya tentang kisah kasih Tuhan. Saya akan menceritakan kembali kepada anda semua, pengalaman yang membuat saya begitu tersentuh sebagai Imam, sebagai orang beriman; sebagai seorang anak yang sangat amat dikasihi oleh Tuhan. Nah.. di dalam kisah berikut ini, kita akan kembali membahas kisah-kisah teks dalam Kitab Suci.

Saudara-saudaraku terkasih dalam satu titik pengalaman hidup saya, saya betul- betul merasakan apa yang dikatakan dalam Kitab Suci : pengalaman mukjizat, pengalaman kesembuhan. Yang diceritakan dalam Kitab Suci, orang-orang yang disembuhkan oleh Yesus, yang saya baca dalam Kitab Suci ternyata sungguh- sungguh saya alami. Ada satu titik dalam hidup saya, saya hanya berani mengandalkan Tuhan, bukan mengandalkan yang lain. Dan saya mengalami yang namanya mukjizat kesembuhan.

Kisahnya dimulai dari sekitar tahun 2010, saya harus kehilangan papa saya karena penyakit jantung. Beberapa tahun kemudian tidak lama, dimana air mata belum kering, saya harus menghadapi kenyataan kakak saya yang pertama harus meninggal karena kanker, di usia yang ke 40. Di mana, lagi-lagi kenyataan pahit harus saya terima. Saya harus menangis lagi, saya harus bersedih lagi.
Ketika air mata ini belum kering, saya harus menghadapi kenyataan baru lagi, kenyataan pahit lagi, kakak saya yang kedua juga meninggal karena kanker di usia yang ke 40. Habis saya, saya merasa kecewa, saya merasa kok hidup saya seperti ini?
Di akhir Desember 2014, saya harus menemui sebuah kenyataan pahit. Ketika waktu itu, saya merasa leher saya kok enggak enak… ada sesuatu yang mengganjal. Ketika saya raba-raba, saya lihat di cermin, ternyata ada sebuah benjolan besar yang baru saya ketahui. Waktu itu usia saya 39 tahun, dengan riwayat penyakit dalam keluarga yang seperti tadi saya ceritakan, sudah pasti benjolan itu menjadi sebuah kecemasan buat saya. Menjadi sebuah kehancuran buat saya. Saya jadi bertanya, “Apakah hidup saya juga harus berakhir seperti hidup kakak-kakak saya? Hancur habis karena kanker?”

Saya harus bergulat, saya marah sama Tuhan, saya kecewa sama Tuhan, saya bertanya sama Tuhan mengapa hidup saya seperti ini? Tetapi saudara-saudara, saya masih ingat di tahun 2015, dalam sebuah perayaan ekaristi Kamis Putih waktu itu saya mengalami mukjizat yang luar biasa. Waktu itu Injil yang dibacakan adalah dari Yohanes 13 yaitu “Yesus mencuci kaki para murid-Nya.” Dikatakan : “Yesus mengasihi para murid-Nya sampai akhir.”
Dalam titik itu saya mencapai sebuah titik kepasrahan pada Tuhan. “Lord to surrender to you”, Tuhan… saya tidak akan marah lagi, saya tidak akan kecewa lagi, saya tidak akan bertanya-tanya lagi, mengapa hidup saya seperti ini? Apa pun yang terjadi dalam hidup saya, saya serahkan dalam kasih Tuhan. Justru saudara-saudaraku terkasih, ketika kita mulai berdamai dengan situasi diri kita, dengan kepahitan-kepahitan hidup kita, justru di sinilah… dimulailah rahmat mukjizat penyembuhan kasih Tuhan.

Setelah saya pulang ke Indonesia menyelesaikan studi doktoral saya, atas saran Bapak Uskup; saya harus menjalani sebuah operasi untuk mengangkat benjolan yang ada di punggung saya ini. Operasi dilakukan selama 4 jam di rumah sakit Sint Carolus Jakarta. Empat jam, karena apa? Posisinya cukup sulit untuk diambil. Setelah operasi dilakukan, jaringan yang ada di dalam benjolan itu diangkat, lalu harus diperiksa di laboratorium, untuk diperiksa, apakah ada sel kanker di dalamnya? benda apakah itu?
Diperlukan waktu 10 hari untuk dikembang-biakkan di laboratorium. Saudara-saudara silakan anda bayangkan sendiri, sepuluh hari menunggu hasil laboratorium!!!??? Hidup saya seolah-olah akan berakhir, meskipun saya percaya Tuhan akan melakukan hal yang ajaib buat saya, tetapi yang namanya kekhawatiran, ketakutan, kecemasan masih terus menghinggapi saya. Selama 10 hari, saya menunggu hasil laboratorium itu. Saya mengandalkan Firman Tuhan.
Firman Tuhan mana yang saya andalkan??? yaitu dari Injil Markus bab 5 ayat 25sampai 30, bunyinya seperti ini : “Adalah di situ seorang perempuan yang sudah 12 tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya. Namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu, ia mendekati Yesus dari belakang, dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya : “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.”

Saudara-saudaraku terkasih, 10 hari menanti hasil laboratorium; apakah saya positif kanker atau tidak? Kata-kata yang saya ulang adalah “asal kujamah saja jubah-Nya, maka aku akan sembuh.” Nah, kali ini saya akan menceritakan bagaimana proses saya menjamah jumbai jubah Tuhan. Kisahnya seperti ini : di hari ke sepuluh, setelah saya menanti begitu lamanya, saya harus kembali lagi ke rumah sakit Sint Carolus, saya punya appointment jam satu dengan dokter. Di mana hasil laboratorium akan dibuka dan dibacakan untuk saya untuk pertama kalinya. Appointment jam satu siang, sementara jam sepuluh saya sudah sampai di rumah sakit Sint Carolus, saking cemasnya, saking deg degan-nya, kali aja waktunya bisa dipercepat, ternyata tidak bisa.
Di sela-sela menunggu itu, di handphone saya muncul sebuah notifikasi whatsapp; ternyata dari seorang ibu yang tinggal di Filipina, orang Indonesia, lagi datang ke Jakarta.

Dia tanya, “Romo apa kabar? udah kangen denger khotbahnya romo. Kita ketemuan yuk?”

“Di mana bu?”

“Di GI,” di Grand Indonesia, yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit Sint Carolus.

Saya ingat waktu itu H min dua (H-2) lebaran. Jakarta sudah lenggang, Jakarta sudah sepi dari kemacetan, maka saya berpikir, ya.. ada baiknya juga daripada saya deg degan! Akhirnya saya datang ke Grand Indonesia itu untuk makan bareng-bareng bersama ibu-ibu ini.

Ketika makan, kita berbicara, kita ngobrol, lalu ketika sudah jam setengah satu siang, saya berpamitan dengan ibu itu, lalu ibu itu memberikan saya amplop, amplopnya putih, saya raba, ibu itu bilang : “Romo, ini buat jajan romo.” Oh isinya mungkin uang, berapa jumlahnya saya juga tidak pernah tau. Saya tidak pernah membukanya, ketika saya menerima dan bersentuhan dengan jari saya, kok rasanya kok cukup tebal, amplop itu saya masukkan ke dalam tas.
Saya lalu dari Grand Indonesia, saya naik taksi untuk menuju rumah sakit Sint Carolus. Hati saya kembali deg degan, untuk menghilangkan rasa deg degan itu, saya mengajak ngobrol supir taksinya.
Saya mulai bertanya dengan pertanyaan, “pak, udah H min dua lebaran kok bapak enggak pulang kampung?
Supir itu lalu bercerita, “Iya nih mas, saya sudah ditelepon-telepon sama anak-anak saya dari tadi. Bapak jadi enggak pulang kampung.”
Supir itu bercerita, bahwa dia harus kejar setoran untuk bisa membawa anak-anaknya pulang ke kampung mereka.
Saya tanya, “Kampungnya dimana pak?”

“Di Serang, enggak begitu jauh.”

“Kok, anak-anak kangen sekali pulang kampung?”

Si supir bercerita, kalau anak-anak sudah kangen sama ibu mereka.
Lalu saya menyambung, “Kok ibu anak-anak bisa ada di kampung, sementara keluarga ada di Jakarta?”
Lalu dimulailah sebuah kisah yang membuat saya, saya bertemu dengan Tuhan Yesus di sini.
Sang supir bercerita, bahwa dia punya anak empat orang, yang pertama kelas enam SD, yang kedua kelas empat SD, yang ketiga kelas satu SD, dan yang terakhir masih umur 3 bulan.
Lalu saya bertanya kepada sang supir, “Anak-anak di rumah sama siapa, kok bisa anak-anak yang masih kecil-kecil itu ada di Jakarta, sementara ibu mereka ada di kampung?”
Sang supir bercerita, ternyata sang istri sudah meninggal ketika melahirkan anak terakhir mereka.
Lalu saya bertanya, “Kok bisa meninggal pak, kenapa?”
Lalu sang supir dengan entengnya bercerita, istrinya meninggal karena penyakit kanker.
Ketika saya mendengar kata kanker, di kala saya masih deg degan menanti hasil laboratorium, saya pun hancur berantakan.
Maka saya bertanya lagi kepada sang supir, “Kanker apa?”
Ternyata sang istri beberapa bulan setelah dia hamil, dia baru tahu dia kanker payudara. Lalu waktu itu sang istri bertanya kepada suaminya, “Pak kita aborsi saja anak ini, saya tidak mau menambah beban bapak.”
Sang supir bercerita waktu itu dia menjawab istrinya, “Aku akan menjaga anak ini, aku akan merawat, mempertahankan anak ini, sebab anak ini titipan dari Tuhan. Jangan digugurkan.”
Sang sopir melanjutkan ceritanya, dia berkata kepada saya, “Mas ternyata niat-niat suci, kata-kata suci, tidak seindah ketika dijalani.”
Karena begitu istrinya meninggal, si supir ini harus merawat keempat anaknya seorang diri.
Lalu saya tanya, “Yang bayi siapa yang ngerawat pak?”
Ternyata dirawat oleh kakak-kakaknya yang masih SD. Inilah yang membuat sang sopir harus bekerja hanya setengah hari. Ketika anak-anak yang besar sekolah, dia yang merawat bayinya. Ketika anak-anaknya pulang sekolah, bisa merawat adiknya ini, dia baru bisa narik taksi.
Nah, saudara-saudara waktu itu saya tanya, “Pak, memangnya enggak ada orang tua bapak yang ikut membantu?”
Lalu sang Sopir bercerita, untuk mengobati istrinya dibutuhkan sebuah biaya, maka pak supir ini telah menjual rumahnya, menjual tanahnya. Setelah orang tua dari pak supir ini tahu, bahwa harta anaknya sudah habis untuk biaya pengobatan istrinya, tiba-tiba sang ayah juga meninggal, tidak lama kemudian dilanjutkan oleh ibunya.
Si supir mengatakan, “Mas, saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi!”
Lalu saya tanya, “Memangnya enggak ada keluarga dari istri?”
Lalu saya supir melanjutkan cerita, pernah anak-anak diboyong ke kampung untuk dirawat oleh keluarga istrinya, tetapi anak-anaknya ini malah disiksa, karena keluarga istri saya menyalah-nyalahkan sang supir karena tidak becus menangani sang istri. Lalu dengan terpaksa anak-anaknya diboyong kembali ke Jakarta.
Waktu itu sang supir berkata dengan lirih, “Mas, hidup saya sudah hancur. Apakah masih ada Tuhan dalam hidup saya?”

Ketika itu saya ingat, karena Jakarta lancar, taksi sudah sampai di depan rumah sakit Sint Carolus, tandanya saya harus turun dari taksi. Waktu itu saudara-saudara, ketika saya mendengar kisah pilu dari supir taksi tadi. Saya langsung lupa dengan penyakit saya, saya lupa dengan kecemasan saya, saya lupa dengan masalah saya sendiri, ternyata meskipun pengalaman saya sungguh pahit, ternyata masih banyak orang lagi di luar sana, ya.. ternyata pengalaman hidup mereka jauh lebih pahit dari hidup saya.
Saudara-saudara, di sini saya menemukan sebuah kunci rahasia kehidupan, yaitu ketika kita berani keluar dari masalah kita, berani keluar dari problem kita, dan berani masuk menyelami pengalaman hidup orang lain, kita akan mengalami sebuah kesembuhan.
Waktu itu, ketika taksi sudah sampai di depan rumah sakit Sint Carolus tandanya saya harus segera keluar dari taksi. Saya berfikir sangat keras, setelah saya membayar uang taksi, saya berfikir cara apa yang bisa saya lakukan untuk membantu tukang taksi ini? Lalu tiba-tiba saya ingat, di dalam tas saya ada sebuah amplop pemberian ibu yang saya jumpai sebelumnya. Saya ambil amplop itu, saya serahkan kepada supir taksinya tadi. Saya bilang, “Pak, dengan ini bawa anak-anak bapak ke kampung. Ini isinya uang, saya tidak tahu jumlahnya berapa, tetapi saya yakin dengan uang ini, bapak bisa bawa anak-anak ke kampung. Anak-anak sudah sangat kangen dengan ibu mereka.
Lalu tukang taksi tadi membuka amplop putih tadi, dan dia menangis. Dia berkata kepada saya, “Mas, apakah ini serius? Apakah ini beneran, enggak becanda kan mas?”

Lalu dia melanjutkan, “Mas, terima kasih, luar biasa, ternyata ketika hidup saya terpuruk, Tuhan masih sayang sama saya.”

Begitulah kata-kata sang supir tersedu-sedu sambil menangis, seolah-olah dia tidak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya.
Saya buka pintu taksi, sebelum saya keluar saya berkata, “Mas, jangan menyerah untuk anak-anak. Tuhan tidak tidur.”

Saya tutup pintu taksi dan di situ saya baru ingat, ternyata saya harus berjumpa dengan dokter untuk melihat hasil dari laboratorium benjolan di punggung saya itu. Saya masuk ke ruang dokter hanya ditemani oleh seorang suster (perawat), suster Silvi, dari Carolus Boromeus. Dia berkata, “Romo, romo yang kuat ya.”
Saya cuma bilang, “Suster doain saya.”
Apa pun hasilnya, saya mau percaya pada Tuhan. Ketika hasil lab-nya dibuka, hasilnya dikatakan “benjolan yang ada di punggung saya ini bukanlah kanker!”
Di situ saya merasa sungguh-sungguh Kasih Tuhan saya alami, saya dipulihkan, bisa disembuhkan oleh Tuhan.

Mungkin saudara-saudara, kalau saya tidak membantu sang supir tadi, hasilnya bisa berbeda. Tuhan itu terlalu ajaib buat kita, cara kita menjamah jubah Yesus, bisa salah satunya adalah ketika kita keluar dari diri kita. Kita keluar dari kepahitan masalah kita, dan kita memberikan hati kita kepada orang lain. Itulah kita bertemu dengan Tuhan dalam diri orang-orang yang sangat menderita, yang ada di sekitar kita. Mukjizat kesembuhan pun akan terjadi dalam hidup kita.

Saudara-saudaraku terkasih, itulah kisah kasih saya sekitar tahun 2016, belum lama. Sejak saat itu saya mendedikasikan hidup saya untuk pewartaan “Firman Tuhan” kepada semua orang, supaya semua orang dengan aneka macam kesulitan-kesulitan mereka, juga terbantu dengan kekuatan yang telah menyembuhkan saya ini.

Salam Tuhan Yesus memberkati Anda.

Jangan lupa kisah ini di share, supaya kisah ini dapat menjadi insipirasi bagi banyak orang, terima kasih.

karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, akan timbul seperti emas,” (Ayub 23:10)

Related For Kisah Seorang Romo, yang Menjamah Jubah Tuhan Yesus